Minggu, 01 November 2015

persematan pada persemayaman rasa, menunduk dan berdoa

Mengeluh? Sering. Tapi senantiasa berdiri pada setiap masalah yang begitu indah. Aku terlahir sejak 20 tahun yang lalu dengan bahagia, namun tak selamanya cerimanan indah membayangi hidupku, seiring detik menjemput, seiring langit berevolusi. Aku berjalan, lama-lama sendiri, mulai bergerak sendiri hingga aku tau yang tau kehidupanku hanya aku sendiri. Mereka yang menilai, jangan salah ya aku manusia penuh dosa dari kejahatan-kejahatan yang sering aku buat dan aku ternyata berdosa. Suatu hal yang aku syukuri adalah ketika aku sadar aku berdosa, melihat bumi aku ingin akhirat, mengingat akhirat aku ingin segera mati. Seindah kehidupan di dunia, setara dengan aku hidup penuh dosa. Lalu, apa tujuan aku hidup? Aku hidup untuk mati, aku hidup untuk tuhan, dan aku hidup karena ayah dan ibuku hidup. Berada jauh dari rumah ternyata menyakitkan tak seperti dulu dimana selalu kuidamkan tinggal jauh dari mereka. Hidup jauh dari mereka, mengatur ssgala nya sendiri itu sangat sulit, seperti menganyam air yang tak pernah akan bertemu sudahnya. Tapi sebuah pengorbanan demi kesejahteraan hidup ayah dan ibu aku lakukan. Hujatan, badai, petir ku terpa disini, dihina dan tak dihargai, semuanya aku lalui dan ku beri senyum sebagai bukti yang ku yakinkan kepada tuhan tentang makna sabar dan kuat. Intinya aku tau tidak ada sabar yang tidak berbuah manis, aku lakukan itu untuk membuktikan kepada yang lain tuhan menyimpan rahasia lewat sabar, tuhan menyimpan kebahagiaan lewat senyuman palsu. Beranda hidup sudah ada tinggal ku bangun atap nya agar tuhan melindungi ku dari ganasnya manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar